Gamelan Kraton Yogyakarta

Gamelan Kyai Guntur Madu

Gamelan Kyai Guntur Madu

Keraton Yogyakarta Hadiningrat merupakan salah satu kerajaan Islam yang ada di Indonesia.  Pada masa dahulu dalam penyebaran agama Islam oleh para Wali, mereka menggunakan pendekatan kultur untuk membawa pesan dan ajaran Islam kepada masyarakat.  Kini setiap peringatan Maulud Nabi cara para Wali diulang kembali dengan memainkan gamelan yang memiliki nama Kyai Guntur Madu di kompleks Masjid Agung Yogyakarta.

Iklan

Gasing

Bagi orang Indonesia, gasing merupakan permainan tradisional yang dulunya sangat populer, terutama bagi anak kecil.  Namun kini permainan itu sudah jarang sekali kita temukan di sudut perkotaan.  

photo dan teks : Doddy Varonis M

Dangdut

“Penonton dangdut sedang asik menikmati alunan lagu dari penyanyi, dengan berjoged bersama-sama ditegah gelapnya malam”

Musik Dangdut merupakan salah satu genre yang banyak memiliki penggemar di Indonesia.  Pertunjukkan musik ini bisa di temukan di pasar malam atau daerah di pesisir pantai.  Menurut pengamatan di lapangan, sebagian besar penyanyi dangdut adalah wanita yang rata-rata berusia muda.

 

“Ana Servia, gadis asal Kulon Progo, Yogyakarta sedang bersiap-siap untuk naik pentas di sebuah pusat hiburan di Yogyakarta.  Di usianya yang masih belia, Ana menjadi tulang punggung keluarganya

“Tidak jarang penonton selalu ingin mencolek biduan dangdut pujaannya”

Abdi Kraton

Abdi Dalem Kraton Yogyakarta

Abdi Dalem Kraton Yogyakarta

Pengabdian mereka telah berlangsung selama lebih dari 250 tahun yang lalu, ketika kerajaan Ngayogyakarta Hadiningrat berdiri.  Kini Kerajaan tersebut telang bergabung dengan Indonesia sebagaio bagian dari negara kesatuan.  Pengabdian mereka tetap terus berjalan, bukan hanya untuk raja mereka melainkan untuk budaya yang masih tetap dipelihara”
teks dan foto : Doddy Varonis Muliawan
     Perjanjian Giyanti pada tanggal 13 February 1755 merupakan pencapaian dan pengakuan  Pangeran Mangkubumi sebagai Sultan Hamengku Buwono I .  Kemudian pada tanggal 13 Maret 1755 beridiri negara Ngayogyakarta Hadiningrat (baca:Ngayogyokarto).  Sultan HB I memasuki Kraton Ngayogyakarta, pada tanggal 7 Oktober 1756 Pangeran Mangkubumi yang menjadi Sultan Hamengku Buwono memasuki Karaton Ngayogyakarta.  Ngayogyakarta berasal dari kata yogya yang artinya pantas dan karta yang artinya indah atau baik.  Pangeran Mangkubumi yang mendirikan kerajaan dan menjadi raja dengan gelar Ngarsa Dalem Sampeyan Dalem Ingkang Sinuhun Kangjeng Sultan Hamengkubuwono Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatulah Ingkang Jumeneng Kaping I Ing Ngayogyakarta Hadiningrat.  Gelar Sri Sultan ini merepresentasikan pengaruh Islam di lingkungan Kraton.  Terlihat jelas bukti tersebut pada kalimat Ngabdurrahman Sayidin Panatagama Kalifatulah yang artinya “Abdi Alloh (Tuhan) yang menjadi keturunan Rasul Muhammad, yang mengatur agama dan menjadi pemimpin umat Islam.  Dasar pemikiran Kraton bersumber pada pemikiran Manunggaling Kawula Gusti, Sangkan Paraning Dumadi, yang nantinya pemikiran tersebut menjadi dasar setiap gerak dan langkah yang berjalan di setiap detik perkembangan dan kehidupan di Kraton.  Manunggaling kawula gusti mempunyai makna gabungan yang sinergi antara raja dengan kawula/rakyatnya, manusia (rakyat) dengan sesamanya dan manusia dengan Tuhan penciptanya.  Sangkan paraning dumadi juga memiliki makna yang dalam sebagai asal dan tujuan penciptaan manusia.  Dasar pemikiran ini juga menjadi alasan pengabdian yang tulus bagi para abdi dalem Kraton.

     Abdi dalem Kraton sudah ada dan melayani Sultan sejak berdirinya kerajaan ini.  Raja sebagai pemimpin tidak melihat abdi dalem sebagai hubungan antara pimpinan dan bawahan, melainkan abdi dalem sebagai seseorang yang mengabdi kepada budayanya.  Pesan ini dapat ditemukan dicorak pakaian Pranakan yang dikenakan oleh mereka.  188 tahun yang lalu ketika Sri Sultan Hamengkubuwana V(1820-1855) menciptakan pakaian untuk para abdi.  Warna biru tua yang melekat, dengan corak garis vertikal berjumlah tiga dan empat garis memiliki makna dalam.  Garis  berjumlah tiga dan empat memiliki arti Telupat yang bermakna Kewuluminangka Perpat yang artinya di rengkuh dan disaudarakan dalam satu kesatuan di kerajaan.  Sifat persaudaraan yang diharapkan adalah persaudaraan sesama abdi dalem dan persaudaraan dengan Sri Sultan raja mereka.  Abdi ingin merasa dekat dengan raja mereka, ini disimbolkan dengan pakaian pranakan yang berwarna biru tua yang artinya memiliki tekat yang kuat dan kesungguhan hati dalam pengabdian terhadap raja mereka.  Di dalam lingkungan Kraton abdi dalem dibagi menjadi dua; yaitu abdi dalem Punokawan dan Kaprajan.  Abdi dalem Punakawan merupakan abdi yang memiliki tugas pokok harian di lingkungan Kraton, sedangkan abdi dalem kaprajan adalah abdi dalem yang memiliki panggilan jiwa untuk mengabdi, mereka berasal dari pegawai instansi pemerintah, baik yang sudah pensiun atau masih bekerja sebagai karyawan.
Sebagai abdi dalem mereka memiliki jabatan dan fungsinya masing-masing yang terbagi mejadi beberapa bagian.  Urutan kepangkatan paling bawah dalam struktur pemerintaha di dalam Kraton ialah Jajar, Bekel Anem, Bekel Sepuh, Lurah, Kliwon, Wedana, Riya Bupati Anem, Bupati Anem, Bupati, Bupati Kliwon, dan Bupati Nayaka.  Tiap tingkatan kepangkatan ditempuh selama lima tahun bagi abdi yang bekerja sebagai Caos, sedangkan bagi mereka yang bertugas di dalam Tepas kenaikan jabatan ditempuh selama 3-4 tahun.  Di lingkungan dalam Kraton nama kepangkatan dilekatkan pada nama abdi yang bersangkutan beserta di bagian mereka bertugas, nama tersebut diberikan oleh pihak Kraton, seperti misalnya MW Duta Mardawa.  MW merupakan kependekan dari Mas Wedana (kepangkatan Wedana), Duta adalah nama asli dan Mardawa adalah tempat dimana dia ditugaskan, yaitu KHP Kridhamardawa. Kantor yang mengurusi bagian kebudayaan.
     Bagi abdi dalem keprajan, nama mereka akan diganti sesuai dengan masa tugasnyua berasal, misalnya berasal dari pegawai Pamong Praja, maka nama depannya menjadi Prajoa dari dinas militer nama depannya menjadi Yudha dan lain-lainnya.  Secara fisik tidak ada perbedaan yang mendasar antara abdi dalem yang punokawan dan abdi dalem keprajan, pakaian dan kelengkapan yang mereka kenakan sama.  Namun secara pengambdian, abdi dalem keprajan hanya datang sekitar dua minggu sekali untuk melakukan Caos Bekti.
pakaian Pranakan Kraton yang penuh makna yang dalam dengan garis vertical berjumlah tiga dan empat”
     Umurnya kurang lebih 59 tahun, Mas Wedana (MW) Duta Mardawa telah menghabiskan masa 28 tahun terakhirnya untuk mengabdi di Kraton Yogyakarta.  Masa 28 tahun merupakan perjalanan yang panjang bagi pengabdian terhadap raja dan budaya.  Kakek yang kesehariannya mengabdi di KHP Kridhamardawa itu telah melewati dua masa pemerintahan raja.  Dengan kerutan di wajahnya dengan mimik muka khas orang Jogja, Duto Mardowo menjelasakan bagaimana awal mula dia mengabdi tepat delapan tahun sebelum Sri Sultan Hamengkubowana  IX wafat pada tahun 1988 dan kini digantikan oleh putranya Pangeran Mangkubumi yang kini beregelar Sri Sultan Hamengkubowana X.  Ia menjadi abdi dalem karena terispirasi oleh pengabdian mendiang ibunya.  Awal menjadi abdi bagi Duta Mardawa adalah masa-masa prihatin atau penuh pengorbanan yang harus dilaluinya dengan iklas demi tercapainya tujuan sebagai abdi dalem.
“Mas Wedana Duta mardawa, mengenang awal mula ia mengabdi di Kraton Yogyakarta.  Pengabdiannya terinspirasi oleh sang ibu yang telah lebih dulu mengabdi.  Ia melalui dua masa kepemimpinan raja.  Hingga kini dan seterusnya ia akan terus mengabdi kepada raja untuk selamanya.”
Sisi Lain
“Pada tahun 1970, di usianya yang ke-20, disaat teman-teman sebayanya menyenangi musik The Beatles dan Koes Ploes, KMT Projosuwasono lebih memilih bergabung menjadi prajurit di Kraton Yogyakarta.”
     Projosuwasono, waktu itu berbeda dengan teman-temannya yang lain, di saat The Beatles dan Koes Ploes sedang menjadi bintang, ia berusia 20 tahun waktu itu.  Saya bertemu dengan dia waktu itu ketika KMT Projosuwasono usai menyelesaikan tugasnya memimpin prajurit Kraton dalam upacara Garebeg di lingkungan Kraton.  Sudah puluhan tahun, KMT Projosuwasono mengabdikan dirinya kepada Kraton Yogyakarta sebagai abdi dalem.  Tugas seorang abdi dalem beragam, sesuai dengan yang dititahkan Raja.  KMT Projosuwasono sendiri mendapatkan tugas di Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridha Mardawa, yaitu sebuah lembaga di Kraton Yogyakarta yang mengurusi kesenian dan kebudayaan.  Oleh karena itu, sejak beliau pensiun dari pekerjaan formalnya sebagai PNS di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bantul Yogyakarta, kegiatannya di KHP Kridha Mardawa lebih intens untuk mengelola dan mengajar di sekolah Macapat.
     Secara keseluruhan, Kraton Yogyakarta memiliki makna yang merupakan gambaran dari perjalanann hidup manusia hingga akhir hayatnya.  Dasar manunggaling kawula gusti, sangkan paraning dumadi erat hubungannya dengan makna kawuluminangkaperpat yang ditemukan pada symbol baju pranakan.  Kedua makna ini menjadi dasar persatuan bagi rakyat.  Tujuan hidup kawula atau rakyat adalah mengabdi dan menjadi saudara raja.  Raja sebagai pemimpin agama juga diharapkan manusia/rakyat dapat mendekatkan diri dengan penciptanya.   

Pejuang Budaya

“Nadyan asor wijilipun (walaupun dilahirkan sebagai rakyat jelata),
Yen kelakuwane becik (jika kelakuannya baik),

Utawa sugih carita (atau kaya cerita),

Carita kang dadi misil (Cerita yang berisi nasihat),

Iku pantes raketana (orang itu pantas didekati),

Parapon mundhak kang budi(Supaya budi pekerti kita lebih baik).”

Foto : Doddy Varonis M

Teks : Prabandhani Retno Yuniarti

dsc_1195.jpg

Itulah sepenggal tembang (sekar) Kinanthi yang ditulis Raja Kasunanan Surakarta, Sunan Paku Buwono IV dalam serat Wulangreh. Di dalam tembang enam baris tersebut, tersirat nasihat agar kita tidak meremehkan orang yang kelihatannya berkasta rendah, apalagi jika mereka punya nasihat yang baik.

Tembang Macapat selalu menjadi bagian dari irama kehidupan Kraton Yogyakarta, bahkan sejak zaman Kerajaan Demak. Karena pada hari Jumat, gamelan Kraton tidak boleh dibunyikan, maka diganti dengan menyanyikan lagu Macapat.

Sore itu seperti sore-sore yang lain, ketenangan suasana lingkungan Kraton Yogyakarta, dihiasi dengan alunan merdu tembang-tembang Jawa dari para abdi dalem maupun para pecinta tembang-tembang Jawa. Dari salah satu sudut Kraton Yogyakarta, yaitu di Pamulangan Sekar macapat (Tempat Belajar Tembang Macapat) KHP Kridha Mardhawa, terdengar lantunan sajak-sajak berirama yang di dalamnya tersirat nasehat, larangan, doa, maupun kisah sejarah Kraton Yogyakarta. Sejumlah siswa Pamulaungan Sekar Macapat, yang mayoritas telah berusia lanjut, tampak bersemangat melantunkan tembang-tembang seiring irama dari pengajar.

“Ji.. Mo.. Ji.. Ro.. Ji..Ro.. Lu.., Monggo (mari-Jawa red)..” suara lantang KMT Projosuwasono (58) mengambil nada dalam bahasa Jawa untuk memulai tembang. Para siswanya segera mengikuti irama ketukan sebilah bambu di papan tulis, yang meloncat-loncat dari nada ke nada. Sebuah tembang pun mulai mengalun lantang.

dsc_1179.jpg

Gurat-gurat usia yang tegas tergambar di wajahnya, tampaknya tak menghalangi semangat KMT Projosuwasono dalam mengajar tembang Macapat. Dihadapan siswanya, suaranya masih terdengar lantang menyanyikan nada-nada tinggi. Tak ada yang berubah, meski sore itu mungkin adalah kesekian ratus kalinya tembang itu dinyanyikan.

Sudah puluhan tahun, KMT Projosuwasono mengabdikan dirinya kepada Kraton Yogyakarta sebagai abdi dalem. Tugas seorang abdi dalem beragam, sesuai dengan yang dititahkan Raja. KMT Projosuwasono sendiri mendapatkan tugas di Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridha Mardhawa, yaitu sebuah lembaga di Kraton Yogyakarta yang mengurusi kesenian dan kebudayaan. Oleh karena itu, sejak beliau pensiun dari pekerjaan formalnya sebagai PNS di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bantul Yogyakarta, kegiatannya di KHP Kridha Mardhawa lebih intens untuk mengelola dan mengajar di sekolah Macapat.

Kesetiaanya pada kebudayaan Jawa dan Kraton Yogyakarta khususnya, diwujudkan tak hanya melalui tembang Macapat yang diajarkannya, namun juga aktivitasnya sebagai Prajurit Kraton Yogyakarta. Pengabdian tersebut, membuatnya mendapatkan anugrah dari Sri Sultan, yaitu gelar Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) yang kini melekat di depan namanya.

Usianya baru menginjak 20 tahun kala itu, ketika KMT Projosuwasono mulai bergabung dengan pasukan prajurit Kraton Yogyakarta. Sementara kebanyakan anak muda lain tengah getol mengikuti gaya grup musik Beatles atau menyanyikan lagu-lagu Koes Plus, beliau malah punya impian yang jauh berbeda, yaitu menjadi anggota pasukan Keraton Yogyakarta.

“Saya hanya ingin melastirakan budaya. Kakek saya seorang abdi dalem, tetapi orang tua saya tidak. Sehingga, muncul keinginan dari dalam diri saya untuk ikut mengabdi pada Kraton Yogyakarta. Pada tahun 1970, ada kunjunga dari ratu Belanda, Ratu Yuliana, berkunjung ke Yogyakarta, bersam beberapa prjurit Kerajaannya. Melihat itu saya tertarik menjadi prajurit kerajaan. Lalu saya mencoba mendaftar. Kebetulan, waktu itu Kraton sedang mencari tambahan prajurit,” ujar KMT Projosuwasono.

Meskipun tidak lagi menjadi armada perang seperti zama dahulu, menjadi prajurit Kraton tidaklah mudah. Ada serangkaian tes yang mesti dijalani, seperti tes baris-berbaris, ketahanan fisik, loyalitas, dan pengetahuan budaya Jawa. Namun, itu semua dilakukannya dengan baik.

Sebagai prajurit Kraton Yogyakarta, KMT Projosuwasono telah melalui berbagai tahapan jenjang kepangkatan. Tentu saja, hal tersebut tidak dicapainya dalam sekejap. Berkat kecakapannya, KMT Projosuwasono kini dipercaya sebagai Kapten yang sedikitnya memimpin 500 orang Prajurit. Pangkat Kapten merupakan pangkat tertinggi yang dapat dicapai orang awam atau rakyat biasa. Pangkat kedua di atasnya yaitu Pandega dijabat oleh kerabat Kraton dan Manggalayudha, yaitu Panglima Tertinggi, dijabat oleh adik kandung Sri Sultan Hamengkubowono X.

dsc_4667.jpg

Meski menjadi pemimpin adalah pangkat yang bergengsi bagi kebanyakan orang, namun justru bukan hal itu yang memotivasi KMT Projosuwasono dalam menjalankan tugasnya sebagai prajurit maupun pengajar sekolah Macapat. Kesetiaanya dan pengabdiaannya justru muncul dari kepercayaan sederhananya, bahwa menggeluti budaya akan mendatangkan ketenangan dan kepuasan batin, dan bukan sisi finansial yang menjadi motivator. Sebagai gambaran, gaji yang diberikan kepada para abdi dalem rata-rata Rp.10.000.,- tiap bulannya. Namun jumlah tersebut tak ternilai bagi mereka yang memaknai sebagai wujud berkah dan kecintaan Raja kepada Rakyatnya.

“saya secara pribadi mencari ketenangan. Saya merasa lebih tenang jiwanya, ketika berada di dalam lingkungan Kraton. Setelah semua aktivitas di tempat bekerja, maupun di lingkungan masyarakat, rasanya hati lebih tenang saat semua sudah berada di Kraton,” ungkap KMT Projosuwasono.

Mungkin ketenangan itulah yang juga mendorong Endarto (25) untuk menggeluti Jawa, khususnya Macapat. Endarto adalah murid termuda di sekolah Macapat itu. Sudah lebih dari satu tahun ini, Mahasiswa Jurusan Kriya Tekstil Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini aktif dalam kegiatan Macapat. Pemuda yang juga aktif sebagai penari Jawa ini, bisa dikatakan sangat lekat dengan budaya Jawa, meskipun ia mengaku tidak dibesarkan di keluarga yang kental dengan budaya Jawanya.

dsc_1232.jpg

“Di keluarga saya, kebetulan hanya saya yang aktif dalam kegiatan kesenian. Sejak SMP saya menari Jawa, seperti tari Ronggo Martoyo dan Tari Klono Alus. Saya lebih senang kegiatan yang sifatnya tradisi Yogyakarta, karena itu saya bergabung di Macapat juga, selain menari,” Endarto menuturkan. Endarto tidak berlebihan dengan apa yang dituturkannya. Buktinya, selain menggeluti tari tradisional Jawa sejak usia belasan tahun dan menekuni kegiatan macapatan, ia memilih kuliah di Jurusan kriya Tekstil, untuk menyalurkan hobinya membatik. Sepertinya, budaya Jawa sudah menjadi bagian dalam alur kehidupannya setiap hari, seperti juga dalam diri KMT Projosuwasono gurunya.

Mungkin akan terlalu dini jika menganggap KMT Projosuwasono dan Endarto sebagai teladan pelestari budaya. Tetapi, kiranya tidak berlebihan jika mengatakan mereka adalah sebagian dari sedikit orang yang masih setia mempertahankan dan menjaga kelestarian budaya Jawa khususnya. Sebuah pengabdian sederhana yang mereka hidupi selama ini, pastinya bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang mencintai budayanya.

Kusir Kereta Kraton Yogyakarta

dsc_5352.jpg
Foto Oleh : Doddy Varonis M
Kusir Kereta Keraton yang sedang mengikuti kirab budaya di Alun-Alun kota Yogyakarta.
Saat ini kereta tersebut disimpan di Museum Kereta Keraton dan hanya digunakan pada acara tertentu saja

Sungai Kampar

sunagi-kampar-750pix.jpg

Sungai Kampar sesuai dengan namanya mengalir membelah kabupaten Kampar, Riau (sebelum dipecah menjadi tiga provinsi pada tahun 2000, yakni Kampar, Rokan Hulu dan Pelalawan).

Sungai Kampar berhulu dari Pangkalan Koto Baru, Sumatera Barat. Semakin ke hilir, badan sungai dan volume airnya semakin membesar karena ditambah dengan berbagai anak sungai lainnya. Sungai ini bermuara di Kabupaten Pelalawan dan juga dikenal dengan gelombang Bono-nya.

sumber : http://id.wikipedia.org/wiki/Sungai_Kampar

foto : Doddy Varonis M