“Nadyan asor wijilipun (walaupun dilahirkan sebagai rakyat jelata),
Yen kelakuwane becik (jika kelakuannya baik),
Utawa sugih carita (atau kaya cerita),
Carita kang dadi misil (Cerita yang berisi nasihat),
Iku pantes raketana (orang itu pantas didekati),
Parapon mundhak kang budi(Supaya budi pekerti kita lebih baik).”
Foto : Doddy Varonis M
Teks : Prabandhani Retno Yuniarti
Itulah sepenggal tembang (sekar) Kinanthi yang ditulis Raja Kasunanan Surakarta, Sunan Paku Buwono IV dalam serat Wulangreh. Di dalam tembang enam baris tersebut, tersirat nasihat agar kita tidak meremehkan orang yang kelihatannya berkasta rendah, apalagi jika mereka punya nasihat yang baik.
Tembang Macapat selalu menjadi bagian dari irama kehidupan Kraton Yogyakarta, bahkan sejak zaman Kerajaan Demak. Karena pada hari Jumat, gamelan Kraton tidak boleh dibunyikan, maka diganti dengan menyanyikan lagu Macapat.
Sore itu seperti sore-sore yang lain, ketenangan suasana lingkungan Kraton Yogyakarta, dihiasi dengan alunan merdu tembang-tembang Jawa dari para abdi dalem maupun para pecinta tembang-tembang Jawa. Dari salah satu sudut Kraton Yogyakarta, yaitu di Pamulangan Sekar macapat (Tempat Belajar Tembang Macapat) KHP Kridha Mardhawa, terdengar lantunan sajak-sajak berirama yang di dalamnya tersirat nasehat, larangan, doa, maupun kisah sejarah Kraton Yogyakarta. Sejumlah siswa Pamulaungan Sekar Macapat, yang mayoritas telah berusia lanjut, tampak bersemangat melantunkan tembang-tembang seiring irama dari pengajar.
“Ji.. Mo.. Ji.. Ro.. Ji..Ro.. Lu.., Monggo (mari-Jawa red)..” suara lantang KMT Projosuwasono (58) mengambil nada dalam bahasa Jawa untuk memulai tembang. Para siswanya segera mengikuti irama ketukan sebilah bambu di papan tulis, yang meloncat-loncat dari nada ke nada. Sebuah tembang pun mulai mengalun lantang.
Gurat-gurat usia yang tegas tergambar di wajahnya, tampaknya tak menghalangi semangat KMT Projosuwasono dalam mengajar tembang Macapat. Dihadapan siswanya, suaranya masih terdengar lantang menyanyikan nada-nada tinggi. Tak ada yang berubah, meski sore itu mungkin adalah kesekian ratus kalinya tembang itu dinyanyikan.
Sudah puluhan tahun, KMT Projosuwasono mengabdikan dirinya kepada Kraton Yogyakarta sebagai abdi dalem. Tugas seorang abdi dalem beragam, sesuai dengan yang dititahkan Raja. KMT Projosuwasono sendiri mendapatkan tugas di Kawedanan Hageng Punakawan (KHP) Kridha Mardhawa, yaitu sebuah lembaga di Kraton Yogyakarta yang mengurusi kesenian dan kebudayaan. Oleh karena itu, sejak beliau pensiun dari pekerjaan formalnya sebagai PNS di lingkungan Pemerintahan Kabupaten Bantul Yogyakarta, kegiatannya di KHP Kridha Mardhawa lebih intens untuk mengelola dan mengajar di sekolah Macapat.
Kesetiaanya pada kebudayaan Jawa dan Kraton Yogyakarta khususnya, diwujudkan tak hanya melalui tembang Macapat yang diajarkannya, namun juga aktivitasnya sebagai Prajurit Kraton Yogyakarta. Pengabdian tersebut, membuatnya mendapatkan anugrah dari Sri Sultan, yaitu gelar Kanjeng Mas Tumenggung (KMT) yang kini melekat di depan namanya.
Usianya baru menginjak 20 tahun kala itu, ketika KMT Projosuwasono mulai bergabung dengan pasukan prajurit Kraton Yogyakarta. Sementara kebanyakan anak muda lain tengah getol mengikuti gaya grup musik Beatles atau menyanyikan lagu-lagu Koes Plus, beliau malah punya impian yang jauh berbeda, yaitu menjadi anggota pasukan Keraton Yogyakarta.
“Saya hanya ingin melastirakan budaya. Kakek saya seorang abdi dalem, tetapi orang tua saya tidak. Sehingga, muncul keinginan dari dalam diri saya untuk ikut mengabdi pada Kraton Yogyakarta. Pada tahun 1970, ada kunjunga dari ratu Belanda, Ratu Yuliana, berkunjung ke Yogyakarta, bersam beberapa prjurit Kerajaannya. Melihat itu saya tertarik menjadi prajurit kerajaan. Lalu saya mencoba mendaftar. Kebetulan, waktu itu Kraton sedang mencari tambahan prajurit,” ujar KMT Projosuwasono.
Meskipun tidak lagi menjadi armada perang seperti zama dahulu, menjadi prajurit Kraton tidaklah mudah. Ada serangkaian tes yang mesti dijalani, seperti tes baris-berbaris, ketahanan fisik, loyalitas, dan pengetahuan budaya Jawa. Namun, itu semua dilakukannya dengan baik.
Sebagai prajurit Kraton Yogyakarta, KMT Projosuwasono telah melalui berbagai tahapan jenjang kepangkatan. Tentu saja, hal tersebut tidak dicapainya dalam sekejap. Berkat kecakapannya, KMT Projosuwasono kini dipercaya sebagai Kapten yang sedikitnya memimpin 500 orang Prajurit. Pangkat Kapten merupakan pangkat tertinggi yang dapat dicapai orang awam atau rakyat biasa. Pangkat kedua di atasnya yaitu Pandega dijabat oleh kerabat Kraton dan Manggalayudha, yaitu Panglima Tertinggi, dijabat oleh adik kandung Sri Sultan Hamengkubowono X.

Meski menjadi pemimpin adalah pangkat yang bergengsi bagi kebanyakan orang, namun justru bukan hal itu yang memotivasi KMT Projosuwasono dalam menjalankan tugasnya sebagai prajurit maupun pengajar sekolah Macapat. Kesetiaanya dan pengabdiaannya justru muncul dari kepercayaan sederhananya, bahwa menggeluti budaya akan mendatangkan ketenangan dan kepuasan batin, dan bukan sisi finansial yang menjadi motivator. Sebagai gambaran, gaji yang diberikan kepada para abdi dalem rata-rata Rp.10.000.,- tiap bulannya. Namun jumlah tersebut tak ternilai bagi mereka yang memaknai sebagai wujud berkah dan kecintaan Raja kepada Rakyatnya.
“saya secara pribadi mencari ketenangan. Saya merasa lebih tenang jiwanya, ketika berada di dalam lingkungan Kraton. Setelah semua aktivitas di tempat bekerja, maupun di lingkungan masyarakat, rasanya hati lebih tenang saat semua sudah berada di Kraton,” ungkap KMT Projosuwasono.
Mungkin ketenangan itulah yang juga mendorong Endarto (25) untuk menggeluti Jawa, khususnya Macapat. Endarto adalah murid termuda di sekolah Macapat itu. Sudah lebih dari satu tahun ini, Mahasiswa Jurusan Kriya Tekstil Institut Seni Indonesia Yogyakarta ini aktif dalam kegiatan Macapat. Pemuda yang juga aktif sebagai penari Jawa ini, bisa dikatakan sangat lekat dengan budaya Jawa, meskipun ia mengaku tidak dibesarkan di keluarga yang kental dengan budaya Jawanya.

“Di keluarga saya, kebetulan hanya saya yang aktif dalam kegiatan kesenian. Sejak SMP saya menari Jawa, seperti tari Ronggo Martoyo dan Tari Klono Alus. Saya lebih senang kegiatan yang sifatnya tradisi Yogyakarta, karena itu saya bergabung di Macapat juga, selain menari,” Endarto menuturkan. Endarto tidak berlebihan dengan apa yang dituturkannya. Buktinya, selain menggeluti tari tradisional Jawa sejak usia belasan tahun dan menekuni kegiatan macapatan, ia memilih kuliah di Jurusan kriya Tekstil, untuk menyalurkan hobinya membatik. Sepertinya, budaya Jawa sudah menjadi bagian dalam alur kehidupannya setiap hari, seperti juga dalam diri KMT Projosuwasono gurunya.
Mungkin akan terlalu dini jika menganggap KMT Projosuwasono dan Endarto sebagai teladan pelestari budaya. Tetapi, kiranya tidak berlebihan jika mengatakan mereka adalah sebagian dari sedikit orang yang masih setia mempertahankan dan menjaga kelestarian budaya Jawa khususnya. Sebuah pengabdian sederhana yang mereka hidupi selama ini, pastinya bisa menjadi inspirasi bagi siapapun yang mencintai budayanya.